Print Friendly

mau print

Sabtu, 31 Maret 2012

Wisata Anyer, Carita dan Labuhan

1 komentar

Berakhir Pekan di Anyer, Carita, dan Labuhan


Kadang penduduk Jakarta dan sekitarnya bingung mencari tempat untuk menghabiskan akhir pekan mereka. Pusat perbelanjaan besar di Jakarta maupun factory outlet di Bandung dan Bogor sering menjadi sasaran.

Namun, bila Anda mencari tempat berakhir pekan yang lebih dekat dengan alam, Anyer, Carita, dan Labuhan di Banten bisa jadi pilihan.

Tiga puluh tahun yang lalu daerah Anyer dan sekitarnya merupakan primadona wisata bagi kaum urban Jakarta dan sekitarnya. Tempat ini juga sering dijadikan latar syuting film kala itu.



Sayangnya kemasyhuran kawasan ini seolah-olah tergerus oleh munculnya lokasi-lokasi wisata baru. Padahal, dari segi pemandangan, Anyer, Carita, dan Labuhan tidak terlalu berbeda dari beberapa dekade yang silam.

Pada dasarnya, Anda tinggal menuju ke kawasan ini dan memilih tempat menginap. Anda hampir dipastikan mendapat pemandangan pantai berpasir yang indah. Bila Anda ingin berakhir pekan di hotel-hotel favorit, ada baiknya memesan lebih dahulu.

Bila tempat menginap bukanlah masalah, ada banyak penginapan murah yang tidak perlu dipesan. Penginapan-penginapan murah ini berjajar dari selepas Kawasan Industri Krakatau, sepanjang Anyer, Carita, hingga ke Labuhan.

Salah satu keunggulan kawasan Anyer adalah tekstur pantai berpasir lembut, sehingga cocok untuk tempat bermain anak-anak. Banyak hotel yang berada persis di tepi pantai sehingga pantai ini seolah-olah milik pribadi. Di Carita, Anda juga dapat melihat Gunung Krakatau sebagai latar belakang.

Intinya, kawasan ini sangat cocok untuk didatangi bersama keluarga, maupun bagi Anda yang berpasangan.

Anyer, Carita, Labuhan memang menjual pantai sebagai komoditas utama wisata mereka. Selain itu, ada beberapa ikon wisata secara khusus yang dapat Anda kunjungi di wilayah ini.

Mercusuar Anyer


Mercusuar Anyer telah ada sejak zaman penjajahan Belanda, dibangun sebagai penanda arah kapal-kapal VOC yang melintasi selat Sunda. Mercusuar ini dibangun pada tahun 1806, namun sempat rusak terkena letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883.

Pada tahun 1885, pemerintah kolonial Belanda membangun kembali mercusuar ini di tepi pantai untuk menghindari abrasi. Pada fondasi mercusuar lama terdapat tulisan 0 KM Anyer-Panarukan 1806 yang menandai dibuatnya jalan Anyer-Panarukan yang hingga kini masih digunakan. Mercusuar Anyer terletak di Desa Cikoneng.


Karang Bolong


Sesuai dengan namanya, Karang Bolong adalah karang yang berlubang, terletak di Desa Cinangka. Bila Anda berkunjung ke Anyer, sempatkanlah untuk mampir ke Pantai Karang Bolong. Karang besar yang berlubang mendominasi pemandangan di pantai ini, membentuk semacam gerbang menuju laut.



Di sini, wisatawan dapat menaiki tangga batu untuk menikmati pemandangan pantai dari atas. Di sekitar pantai ada sebuah sungai kecil yang mengalir, yang biasanya digunakan untuk membilas tubuh setelah bermain di laut.


Kampung Wisata Alam Anyer


Setelah menikmati keindahan pantai, ada baiknya Anda juga menikmati keseniang dan budaya tradisional di Kampung Wisata Alam Anyer. Di sini seringkali diperagakan berbagai kesenian, salah satunya adalah debus Banten. Selain itu, Anda dapat menyaksikan permainan anak-anak, kesenian angklung, kerajinan gerabah, dan sebagainya.

Di sini juga merupakan tempat yang tepat untuk mencoba makanan khas, seperti nasi bambu bakar dan minuman bandrek. Di kampung ini juga disediakan permainan modern seperti ATV dan flying fox. Kampung Wisata Alam berlokasi sekitar 50 meter sebelum Pondok Layung Resort di Jalan Raya Anyer Karang Bolong KM 133.


Benteng Speelwijk


Untuk melengkapi wisata Anda ke Anyer, kunjungi juga Benteng Speelwijk di Desa Banten Lama. Lokasi objek wisata sejarah ini berada di utara Masjid Agung Banten. Di seberang benteng Anda akan menemukan Vihara Avalokitesvara. Benteng ini dulunya bekas Kesultanan Banten. Namun pada tahun 1785 Belanda berhasil mengambil alih dan menjadikannya benteng. Walaupun menjadi saksi sejarah, sayang wilayah benteng ini tidak terawat.

Untuk menuju ke tempat-tempat di atas, dari Jakarta Anda tinggal mengikuti tol Jakarta-Merak. Rute yang biasa diambil adalah keluar dari gerbang tol Cilegon Timur di KM 87 dan mengikuti jalan menuju ke Anyer.

Keluar dari tol, jalanan cukup buruk dan sering tergenang air setelah hujan turun. Inilah yang membuat banyak orang malas pergi ke Anyer dan Carita. Selain jalanan yang buruk, Anda juga harus bersaing dengan truk-truk bermuatan berat di jalanan sempit ini.

Pilihan lain adalah mengikuti jalan tol Jakarta-Merak, dan keluar di gerbang tol Cilegon Barat di KM 95. Dari sini Anda akan menembus Kawasan Industri Krakatau untuk sampai ke Anyer. Rutenya sedikit lebih panjang tetapi kondisi jalan agak sedikit lebih baik dan lebar, serta tidak terlalu banyak truk.





Wisata Air Terjun Sipiso-piso

0 komentar


Air Terjun Sipiso-piso, Permata di Tanah Karo


Ketika seseorang berkunjung ke Sumatera Utara, tujuan utama wisata mereka pastilah Danau Toba. Air terjun Sipiso-piso pun berada di tepi Danau Toba, sayangnya objek wisata yang sangat menarik ini kurang dikunjungi wisatawan karena letaknya di tepi yang berbeda dengan kota Parapat, di mana wisatawan biasanya berkunjung.

Sipiso-piso terletak di sebelah utara Danau Toba, sekitar 24 kilometer dari Kabanjahe. Air terjun ini merupakan yang tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 120 meter. Air terjun Sipiso-piso terbuat dari sungai bawah tanah di plato Karo yang mengalir melalui sebuah gua di sisi kawah Danau Toba.

Ketika saya berkesempatan berkunjung ke tempat ini, pemandangan air terjun sungguh luar biasa. Air terjun yang kecil namun tinggi jatuh di antara tebing berwarna kehijauan. Dari gardu pandang yang dibangun pemerintah di Merek ini pengunjung tidak hanya dapat menikmati pemandangan air terjun, melainkan juga Danau Toba.



Air terjun Sipiso-piso berada di sekitar 800 meter di atas permukaan air laut. Air terjun itu deras mengalir ke bawah mengiris bukit-bukit hijau yang ditumbuhi pohon pinus. Sipiso-piso sendiri arti harafiahnya adalah “pisau”.

Anda tidak hanya dapat melihat air terjun dari kejauhan, namun turun untuk mendekatinya. Tangganya terjal dan cukup jauh sehingga pastikan anda memiliki stamina yang kuat serta membawa bekal air minum. Turunnya mungkin tidak menjadi masalah, namun untuk naik kembali ratusan tangga setelah selesai bermain-main air di bawah tentu cukup melelahkan.

Gardu pandang ini sendiri cukup luas, dan ketika itu banyak dikunjungi oleh wisatawan setempat. Sayangnya infrastruktur di gardu pandang ini kurang memadai. Hanya ada fasilitas dasar seperti toilet dan warung, yang menurut saya jumlah serta kebersihannya kurang memadai. Pengunjung yang ingin mengeksplorasi daerah ini lebih lanjut sebaiknya menginap di desa terdekat, yaitu Tongging.

Tongging


Tongging berada di tepi Danau Toba, di bagian utara. Di Tongging anda dapat melakukan berbagai aktivitas, seperti misalnya berenang di danau, melakukan trekking di hutan, atau mengunjungi satu air terjun kecil bernama Sidompak. Anda dapat naik ke Gunung Sipiso-piso, dan melakukan paragliding dari puncaknya.



Selain berenang, anda juga dapat naik perahu yang disewa dari nelayan setempat untuk berkeliling danau. Bersepeda dari satu desa ke desa lain juga merupakan aktivitas menyenangkan untuk melihat kehidupan sehari-hari penduduk Karo. Bagi anda penggemar kain-kain etnik, anda dapat pergi ke Desa Silalahi di Sabungan, Dairi. Desa ini terletak sekitar 11 km dari Tongging.

Penduduk Desa Tongging kebanyakan adalah nelayan dan petani. Mereka bertani padi dan bawang serta mencari ikan di danau Toba. Ikan mas arsik dan ikan nilai merah merupakan jenis ikan yang umum diternakkan di Danau Toba. Anda harus mencoba sajian ikan dengan bumbu tradisional

Beberapa pilihan akomodasi di Tongging antara lain Wisma Sibayak, Wisma parultop, dan Roman Sinasi Bungalows, yang semuanya ada di Jalan Silalahi, Tongging. Berwisata ke sini sangat cocok untuk para backpacker dengan anggaran terbatas karena akomodasi pun murah meriah.

Menuju ke Sipiso-piso


Ketika saya berkunjung ke Sipiso-piso, saya sedang melakukan perjalanan mengelilingi Sumatera Utara dengan awal di Berastagi, melalui Kabanjahe, ke Sipiso-piso, Pematang Siantar, Parapat, Tuk-Tuk, dan berakhir di Bukit Lawang.

Karena anggaran yang terbatas, saya memilih menggunakan angkutan umum melalui jalan lintas Pematang Siantar. Dari Berastagi saya menggunakan bus umum yang menuju ke Kabanjahe –ibu kota kabupaten Tanah Karo , dengan tarif kurang dari 5 ribu rupiah.

Di Kabanjahe, saya menaiki angkutan pedesaan yang melintasi Merek. Dari pertigaan jalan utama, saya memilih becak motor untuk sampai di gardu pandang. Dari gardu pandang Anda masih harus menempuh perjalanan dengan angkutan umum atau becak ke Tongging, dengan jalanan yang menurun.

Bagi Anda yang menggunakan kendaraan pribadi, perjalanan ke Sipiso-piso lebih mudah. Dari Berastagi, Anda hanya akan membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Pemandangan alam dan pedesaan di Tanah Karo sangat menarik, sayangnya jalanan kurang baik. Jadi, berhati-hatilah.




http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/247-air-terjun-sipiso-piso-permata-di-tanah-karo

Wisata Pantai Batu Karas

0 komentar

Berselancar di Pantai Batu Karas


Siapa bilang kita harus ke Bali untuk berselancar?

Penggemar olahraga selancar mungkin sudah mengetahui soal pantai yang letaknya cukup terpencil ini. Namun yang belum, Anda bisa mencoba pergi ke pantai Batu Karas. Pantai ini terletak di Desa Cijulang, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Dari Jakarta dapat ditempuh dalam waktu sekitar 5 hingga 7 jam. Pantai ini hanya 10 menit dari lokasi wisata lain yang juga sangat menarik bagi wisatawan yaitu Green Canyon.



Pantai Batu Karas tidaklah terlalu besar. Pantai ini berupa cekungan yang sudut-sudutnya agak berbatu. Bila kebetulan langit sedang bersahabat, Anda akan beruntung karena mendapat objek foto yang luar biasa indah. Akan lebih baik lagi bila Anda berkunjung khusus untuk menikmati matahari tenggelam. Kontur berbatu di sisi kanan dan kiri pantai akan memanjakan para penggemar fotografi karena memberikan lanskap yang menarik.

Beberapa ulasan yang pernah saya baca mengatakan bahwa Pantai Batu Karas merupakan salah satu titik terbaik untuk berselancar di Indonesia. Namun, keika saya berkunjung ke sana beberapa waktu yang lalu, ombak tidak terlalu besar sehingga mungkin kurang menarik bagi mereka yang sudah piawai berolahraga selancar. Tetapi itu tidak mengurangi nilai pantai ini, karena justru pada saat ombak tidak terlalu besar sangat cocok bagi para peselancar pemula yang mungkin jumlahnya di negeri ini lebih banyak daripada mereka yang sudah ahli.



Bagi yang tidak ingin belajar berselancar, Anda dapat memanfaatkan waktu dengan berbagai olahraga air yang tersedia di sini, antara lain banana boat. Operator olahraga air, serta tempat penyewaan alat-alat snorkeling dan semacamnya banyak tersedia di tepi pantai. Bagi Anda yang memiliki hobi fotografi, Anda dapat menaiki bukit di sisi kanan pantai, melalui tangga semen yang ada. Pastikan saja Anda berhati-hati karena kondisi tangga menurut saya sudah harus diperbaiki. Dari atas bukit Anda dapat menikmati pemandangan yang lebih luas.

Pantai Batu Karas, mungkin tidak seterkenal pantai lain di daerah tersebut, namun popularitasnya makin membumbung. Di saat hari libur atau saat liburan sekolah pantai ini sangat ramai. Ketika terakhir berkunjung ke sana, ada sekolah yang tengah mengadakan perkemahan di lokasi wisata ini. Jadi, bila anda ingin lebih menikmati suasana, pilih hari yang bukan hari libur. Selain suasana yang lebih tenang, pantainya pun menjadi lebih bersih.

Bukti naiknya popularitas pantai ini adalah munculnya akomodasi-akomodasi baru di sekitar pantai. Awalnya mungkin hanya JavaCove Beach Hotel dan Bonsai Bungalow yang ada, kini beberapa akomodasi lain yang tampaknya cukup berkelas mulai beroperasi.



Bila Anda ingin suasana yang agak berbeda, Anda dapat memilih menginap di Panimeran Riverside, sekitar 1 km dari pantai. Cottage ini menyediakan penginapan bergaya alam di pinggir sungai, walau mereka juga baru saja membangun tipe akomodasi yang lebih ekonomis. Jadi jangan khawatir bila Anda ingin menginap, kini sudah banyak pilihan!

Masalah makan juga tidak perlu dikhawatirkan. Di tepi pantai berderet warung-warung yang menyediakan makanan laut. Menurut saya, harganya normal dengan citarasa yang dapat diacungi jempol.

Pantai Batu Karas berada sekitar 32 km dari Pantai Pangandaran. Jalan dari Pangandaran ke pantai ini kurang mulus sehingga alokasikan waktu lebih. Bila Anda akan pergi menggunakan kendaraan umum, dari Pangandaran atau Tasikmalaya Anda dapat memilih angkutan dengan jurusan Cijulang. Sampai di Terminal Cijulang, Anda dapat melanjutkan dengan ojek.




Wisata Pantai Siung

0 komentar

Pantai Siung, Pesona Baru Yogyakarta


Pantai Siung adalah salah satu pantai di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Meski termasuk yang paling baru dikenal, pantai ini telah menjadi andalan wilayah tersebut. Belum lama ini, saya mengunjungi pantai itu dan menyadari potensi wisata yang dimilikinya.

Siung terletak di Kecamatan Tepus, sekitar 70 km dari Yogya. Berbeda dengan pantai-pantai yang telah lebih dahulu dikenal seperti Parangtritis, Siung termasuk pendek. Pantai ini terletak di cekungan yang panjangnya hanya sekitar 300-400 m. Namun justru di sinilah letak keistimewaannya.

Pantai pendek ini dikelilingi oleh karang-karang besar berwarna kehitaman, yang sebagian besar ditumbuhi vegetasi dan lumut hijau. Paduan laut biru jernih dan karang kehijauan menambah keindahan panorama tempat ini.


Pantai Siung. Foto: Puput Aryanto

Siung bukanlah pantai yang paling ideal untuk berenang karena menghadap langsung ke Samudera Hindia. Topografi pantai yang berkarang dan berbatu serta ombak yang besar pun menyulitkan Anda untuk berenang. Tak heran pemerintah setempat memasang tanda larangan berenang. Namun, tentu Anda masih bisa bermain-main air di pinggir pantai.

Keistimewaan lain dari pantai ini adalah masih banyaknya pepohonan di pinggir pantai. Anda tinggal menyewa tikar dari penduduk sekitar dan berteduh di bawah pohon-pohon itu.

Selain cocok sebagai tempat melarikan diri dari kesibukan sehari-hari, Siung sangat sesuai bagi Anda yang memiliki hobi fotografi. Pantai yang pendek dan dibatasi karang-karang justru merupakan objek foto yang sangat menarik.

Bila tidak keberatan mengeluarkan keringat, Anda dapat mengikuti jalan setapak di sisi kiri pantai untuk mencapai puncak tebing. Sekitar 10-15 menit dibutuhkan hingga sampai ke puncak. Dari sana, akan terlihat keseluruhan pantai dan karang-karang besar di sisi kiri dan kanan. Juga terlihat Pantai Wediombo yang berada di sisi sebelah timur Siung.

Selain menjadi objek wisata dan foto yang menarik, daerah di sekeliling Pantai Siung juga sering dijadikan tempat latihan panjat tebing. Mahasiswa pencinta alam di Yogya — dan bahkan luar kota — sering berlatih di sini, memanfaatkan tebing-tebing dengan ukuran bervariasi dan jalur yang beragam.

Karena baru dikenal beberapa tahun belakangan ini, Siung belum banyak dikunjungi wisatawan. Air lautnya masih jernih, karang-karangnya pun masih bebas dari tangan-tangan jahil manusia.

Penduduk setempat telah membangun warung, toilet dan mushola di pantai ini. Berbeda dengan tempat wisata kebanyakan, harga-harga di pantai ini masih tergolong normal sehingga pantai ini dapat menjadi opsi jalan-jalan murah bagi Anda.

Bila perut mulai melilit, Anda dapat mendatangi salah satu warung yang berjajar di pinggir pantai. Biasanya mereka menyediakan mi instan, nasi dan lauk, serta es kelapa muda. Anda juga dapat meminta penjaga warung untuk memasakkan ikan yang baru ditangkap nelayan.

Sayangnya, di daerah ini banyak nelayan menangkapi bayi hiu padahal hewan itu adalah salah satu spesies yang dilindungi.

Menuju Siung


Dengan kendaraan pribadi dari Yogya, Anda tinggal menuju ke Jalan Wonosari. Dari Yogya hingga ke Wonosari, ibukota Gunungkidul, dibutuhkan waktu sekitar 1-1,5 jam perjalanan. Hati-hati terhadap jalan yang menanjak dan berliku.

Sampai di Wonosari, Anda tinggal mengikuti jalan ke arah Pantai Baron hingga persimpangan yang menuju ke Pantai Siung. Total waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Siung sekitar 2-2,5 jam tergantung moda transportasi dan kecepatan kendaraan Anda.

Bila Anda memilih kendaraan umum, Anda harus naik bis ke terminal Wonosari. Di sana Anda harus berganti dengan minibus arah Tepus atau Jepitu. Di perhentian terakhir Anda harus menyewa ojek.

Karena jalur transportasi umum masih kurang memadai, cara ini tidak disarankan. Anda yang berasal dari luar kota lebih baik menyewa motor/mobil di Yogya, dan menempuh perjalanan sendiri hingga lokasi yang dituju.

Jangan khawatir, seperti hampir keseluruhan wilayah Yogyakarta, akses jalan hingga ke tempat-tempat terpencil – termasuk Siung dan pantai-pantai di sekitarnya – adalah jalan aspal halus.

Dengan kendaraan pribadi, Anda juga akan lebih mudah untuk mengunjungi pantai-pantai lain di wilayah itu, antara lain Sundak, Krakal, Wediombo dan Sadeng. Mari kita ke Yogya!

Harga tiket (pungutan resmi)
Orang   Rp 1000
Mobil    Rp 1500
Motor   Rp 1000

Parkir
Mobil    Rp 5000
Motor   Rp 2000




Wisata Kawah Putih

0 komentar

Liburan Di Kawah Putih


Ingin berlibur di sebuah negeri di awan? Anda tak perlu terbang tinggi. Cukup pergi ke Kawah Putih di selatan Bandung. Uap yang muncul dari danau vulkanik ini menimbulkan efek seperti awan.

Kawah ini adalah satu dari dua kawah Gunung Patuha. Menurut sejarah, Kawah Putih ditemukan oleh seorang botanis Jerman Franz Wilhelm Junghuhn pada tahun 1837. Kawah Putih menjadi salah satu objek wisata andalan Kabupaten Bandung pada tahun 1987. Dulu kawah tersebut merupakan tambang belerang, namun kini telah berhenti produksi.

Danau kawah ini cukup luas, dan letaknya yang berada di  2.430 meter di atas permukaan laut membuat temperatur di objek wisata ini sejuk. Bila musim penghujan atau menjelang sore udara dingin pun lebih mengigit.



Salah satu keistimewaan dari Kawah Putih adalah warna danaunya yang berubah-ubah sesuai temperatur dan kadar belerang. Terkadang warnanya kebiruan, kadang kehijauan, terkadang juga cokelat. Secara umum, apapun warna danaunya, lokasi ini didominasi warna putih. Bahkan batu-batu yang mengelilingi kawah pun telah berubah warna menjadi keputih-putihan. Oleh karena itu, sangat cocok dijuluki negeri di awan.

Lokasi kawah ini berada di tengah hutan lebat. Jarak antara gerbang utama ke danau adalah sekitar 5 km dengan jalanan yang cukup buruk. Tetapi setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari Bandung, ditambah dengan perjalanan dari gerbang utama, Anda akan menyaksikan pemandangan yang spektakuler. Dari area parkir, telah dibangun tangga semen yang cukup baik. Anda harus menuruni undak-undakan tersebut untuk mencapai pinggir danau.

Begitu tiba di pinggir danau, wisatawan dapat berjalan ke arah kanan atau kiri. Bila Anda datang setelah hujan — yang cukup sering terjadi di Bandung dan sekitarnya — berhati-hatilah karena tanah dan batu bisa jadi sangat licin. Pohon-pohon yang mengelilingi danau kering tak berdaun, menambah efek magis Kawah Putih.



Tiket memasuki kawasan ini tidak terlalu mahal, yaitu Rp 12.000 (hari biasa) dan Rp 15.000 (akhir pekan) per orang untuk wisatawan dalam negeri, dan Rp 20.000 untuk wisatawan asing. Sayangnya, biaya menjadi jauh lebih tinggi bila Anda ingin membawa mobil pribadi ke atas. Satu mobil dikenai bayaran Rp 150.000 ditambah dengan biaya per kepala. Sementara itu kendaraan roda dua hanya dikenai Rp. 5000 ditambah biaya per kepala.

Entah apa maksud pengelola wisata mengenakan biaya yang sangat tinggi bagi mobil pribadi ini. Kemungkinan besar adalah untuk “memaksa” para pengunjung menggunakan angkutan khusus yang tersedia untuk menuju ke lokasi. Saya melihat banyak wisatawan yang terlihat kesal dengan tingginya biaya masuk kendaraan roda empat (saya pun salah satunya). Akhirnya banyak wisatawan yang membawa mobil pribadi memilih angkutan ini. Biaya yang dikenakan hanya Rp 5.000 pulang pergi, sehingga dengan biaya tiket, per orang hanya membayar Rp 20.000. Jauh lebih murah bukan?

Kawah Putih bukan satu-satunya wisata di daerah Bandung selatan. Bila Anda berkesempatan berkunjung ke Kawah Putih, Anda akan melewati Desa Ciwidey yang dapat dijadikan pilihan untuk mencari tempat bermalam. Anda juga dapat berkunjung ke Situ Patengan, danau yang berada di tengah kebun teh. Selain itu, tidak jauh dari gerbang utama Kawah Putih, ada Ranca Upas, lokasi kemping di tengah pohon kayu putih, yang umum tumbuh di wilayah tersebut. Bila ingin berendam air hangat, objek wisata Cimanggu pun tidak terlalu jauh.




Wisata Green Canyon

0 komentar

Green Canyon, Paradiso Tersembunyi Tanah Pasundan


Green Canyon berada di Cijulang, Jawa Barat, yang berjarak sekitar 285 km dari Jakarta (31 km dari Pantai Pangandaran).

Tempat ini merupakan sekelompok gua, dengan stalagtit dan stalagmit yang tersembunyi di balik tebing-tebing hijau — mungkin itulah mengapa dinamakan Green Canyon, pelesetan dari Grand Canyon di Amerika Serikat. Orang setempat biasa menyebutnya Cukang Taneuh.

Untuk menuju ke gua, Anda harus menuju dermaga dan membeli tiket. Bila pergi pada saat hari libur (apalagi akhir pekan yang panjang), bisa dipastikan Anda harus menunggu beberapa jam hingga mendapat giliran menaiki perahu menuju gua.



Perahu-perahu wisata yang dioperasikan adalah milik masyarakat setempat, namun diatur oleh pemerintah kabupaten. Satu perahu dapat mengangkut hingga lima penumpang dengan harga sewa Rp 75.000. Bila ingin berenang di gua, Anda dapat menyuruh awak perahu menunggu, tentu dengan biaya tertentu.

Mereka akan meminta Rp 100.000 untuk seharian penuh, namun tentunya Anda tidak akan menghabiskan satu hari di sana. Tawarlah, mungkin Anda bisa mendapatkan Rp 80.000 di musim liburan dan Rp 50.000 ketika sedang sepi pengunjung.

Masing-masing perahu selalu menyediakan pelampung untuk penumpangnya, sehingga bila Anda kurang pandai berenang, jangan terlalu khawatir. Para pelancong biasanya juga memanfaatkan batu-batu gua untuk melompat ke air yang jernih.

Tempat ini masih bebas polusi, pemandangannya pun indah.

Apabila Anda tidak suka berenang, Anda dapat memanfaatkan waktu menikmati pemandangan, juga mengambil gambar. Sebelum pintu masuk gua, terdapat sebuah dermaga kecil yang biasanya digunakan oleh perahu untuk menunggu. Di sana ada beberapa pedagang yang menjual minuman dan makanan kecil.

Salah satu kekurangan dari Green Canyon adalah pemeliharaannya yang masih kurang baik, mungkin karena tempat ini merupakan objek wisata yang relatif baru. Di sini, hanya ada tiga toilet dan sebuah mushola kecil, padahal pada saat liburan pengunjung dapat mencapai hingga ratusan orang.

Namun, penduduk setempat mengambil untung dengan cara menyediakan kamar-kamar kecil dan tempat sholat yang lebih layak, hanya dengan tarif Rp 2.000. Tempat parkir yang ada di seberang dermaga cukup luas, dengan biaya Rp 3.000 untuk sehari penuh.
Di sekeliling area parkir terdapat deretan warung yang menjual nasi dan ikan bakar serta kelapa muda. Mungkin Anda juga ingin menikmati makanan lokal seperti lotek, karedok dan rujak tumbuk. Selain harganya murah, sangat cocok untuk mengisi perut setelah lelah bermain di gua!


Berperahu melewati tebing-tebing di kawasan Green Canyon. Kredit foto: Tempo/Aditya Herlambang Putra.

Menuju Green Canyon


Dengan mobil pribadi, dari Jakarta Anda dapat melalui tol Cipularang menuju Bandung. Keluar tol di Cileunyi, ikutilah jalan Ciawi-Nagreg menuju Tasikmalaya. Sebelum Rajapolah, Tasikmalaya, beloklah ke kanan dan ambil rute Ciamis-Banjar. Dari sana Anda akan melihat tanda-tanda yang menunjukkan arah ke Pangandaran. Waktu tempuh Jakarta-Cijulang 6-7 jam.

Apabila Anda akan menempuh perjalanan dengan kendaraan umum, dari Terminal Kampung Rambutan, PO Budiman menyediakan bus jurusan Pangandaran. Dari Grogol dan Tangerang juga ada beberapa bus yang melayani rute ini. Sesampainya di Pangandaran, Anda harus berganti bus yang menuju Cijulang. Terminal Cijulang berada sekitar 1 km dari Green Canyon.

Selain jalur darat, terdapat pula penerbangan Jakarta-Pangandaran melalui Bandung sehari sekali dari maskapai Susi Air. Anda sebaiknya memesan tiket jauh-jauh hari.

Informasi lainnya


Lebih baik Anda menyiapkan uang tunai yang cukup, karena ATM terdekat berada sekitar 1 km dari Green Canyon — di Bank BRI tepat di seberang kantor kecamatan Cijulang. Penduduk lokal yang saya temui mengatakan, mesin tersebut sering kehabisan uang tunai.

Bila hal itu terjadi, Anda akan terpaksa menempuh sekitar 4 km untuk mendapatkan mesin ATM berikutnya. Tentu Anda tidak ingin ini terjadi bukan?

Para pengunjung juga dapat melakukan body rafting di sekitar Gua Kelelawar. Aktivitas ini dikelola oleh para awak perahu bekerjasama dengan karang taruna desa setempat. Katakan pada awak perahu  bahwa anda ingin melakukan body rafting dan mereka akan mengantar anda ke tempatnya. Waktu yang dibutuhkan sekitar 3-4 jam dan tentu saja dengan biaya tambahan

Tidak ada akomodasi di sekitar Green Canyon. Hotel paling dekat adalah di Panireman Riverside bibir sungai menuju ke Pantai Batu Karas, sekitar 15 menit dari Green Canyon. Hotel-hotel lain berada di sekitar Pantai Batu Karas, tempat wisata yang akan dibahas pada tulisan selanjutnya.





Wisata Situ Patengan

0 komentar


Situ Patengan, Danau di Tengah Kebun Teh



Siapa bilang berlibur harus pergi jauh dan mengeluarkan uang banyak? Saya sangat yakin bahwa esensi berlibur adalah keluar dari rutinitas sehari-hari yang menjemukan dan melakukan sesuatu yang lain. Jadi Anda bisa berlibur di mana saja: berkeliling dunia atau suatu tempat yang tak terlalu jauh dari rumah.


Situ Patengan (atau Patenggang) di Ciwidey, Bandung Selatan, dapat dijadikan salah satu pilihan destinasi akhir pekan bagi Anda yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Jaraknya, 185 km dari Jakarta melalui tol Cipularang.



Suasana di Situ Patengan. Foto: Olenka Priyadarsani


Terletak di ketinggian sekitar 1600 m di atas permukaan laut, danau ini dikelilingi kebun teh Rancabali. Anda tidak hanya dapat menyaksikan danau yang tenang, tapi juga menikmati hijaunya kebun teh dengan topografi memesona.


Nama danau ini berasal dari kata pateang-teangan yang berarti saling mencari. Alkisah, dahulu kala dua insan manusia bernama Ki Santang jatuh cinta kepada Dewi Rengganis yang sangat cantik. Setelah berpisah sekian lama, mereka bertemu kembali di daerah yang kini disebut Batu Cinta.


Untuk memasuki lokasi danau, Anda harus membayar tiket masuk Rp 6 ribu per orang dan Rp 11.500 per mobil. Tidak terlalu mahal bukan?


Dari gerbang tiket menuju lokasi danau, Anda akan melalui jalan yang membelah kebun teh. Pemandangannya sungguh luar biasa. Sebuah danau membentang di tengah hamparan kebun teh dan di tengah-tengah danau, terdapat sebuah pulau kecil.


Jika ingin mengunjungi Batu Cinta (tempat Ki Santang bertemu Dewi Rengganis), Anda dan rombongan bisa menggunakan perahu dayung dengan ongkos Rp 130 ribu pp — yang bisa ditawar hingga setengah harga.


Perjalanan ke lokasi Batu Cinta membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Di lokasi ini, Anda dapat mendaki bukit di belakangnya, memasuki kebun teh dan mengambil gambar di situ. Ada pula sebuah tempat yang lebih tinggi dari sekelilingnya, sehingga Anda bisa leluasa mengambil gambar sekeliling danau.


Waktu terbaik untuk datang ke Situ Patengan adalah pagi hari, saat langit masih berwarna biru bersih. Perpaduan biru langit dan hijau kebun teh menghasilkan pemandangan yang tak terlupakan.